header image
 

such-a-lazy-intern

pancet ae.

lagu lama. penyakit lama.

sial. padahal interna lho. bahannya sakbajeg. tapi kok rasanya masih males aja ya buka buku dan baca lagi. apa ngerjain soal aja? *tetep buanyak- dan baru ngerjain berapa nomer udah hopeless karena gak bisa* liat harrison, bahasanya sumpah ketinggian.. saking sophisticated-nya sampe aku nggak mudheng. atau baca buku ajar aja ? hah? murmur diastole? murmur sistole? kok perasaan gak ada bedanya sih bunyinya? hah? elevasi ST? V1,V1,V3?  aduuuhh..kok lupa ya? padahal dulu pas faal aku bisa lho baca EKG. apa buka guyton lagi ya?

Hiyyyyah..

Coba interna se-menyenangkan jiwa dan saraf ya..

PS: rasanya saya bakal mencoret interna dari wish-list spesialisasi saya nanti. ampun..makasih deh….

girl language

dapet bulbo ini dari citra. this is kinda cute, but so true. para cowok di luar sana, baca baik-baik ya…
When i don’t call you
[ It's because i'm waiting for you to call me ]

When i walk away from you mad
[ Follow me ]

When i stare at your mouth
[ Kiss me ]

When i push you or hit you
[ Grab me and don't let go ]

When i start cussing at you
[ Kiss me and tell me you love me]

When i’m quiet
[ Ask me whats wrong/Or mess with me. ]

When i ignore you
[ Give me your attention ]

When i pull away
[ Pull me back ]

When you see me at my worst
[ Tell me im beautiful ]

When you see me start crying
[ Hold me and tell me everything will be alright ]

When you see me walking
[ Sneak up and hug my waist from behind ]

When i’m scared
[ Protect me ]

When i lay my head on your shoulder
[ Tilt my head up and kiss me ]

When i tease you
[ Tease me back and make me laugh ]

When i don’t answer for a long time
[ reassure me that everything is okay ]

When i look at you with doubt
[ Back yourself up ]

When i say that i like you
[ I really do more than you could understand ]

When i grab at your hands
[ Hold mine and play with my fingers ]

When i bump into you
[ bump into me back and make me laugh ]

When i tell you a secret
[ keep it safe and untold ]

When i look at you in your eyes
[ don't look away until i do ]

When i miss you
[ i'm hurting inside ]

When you break my heart
[ the pain never really goes away ]

When i say it’s over
[ i still want you to be mine ]

When i repost this bulletin
[ i want you to read it ]

semoga

Hari ini lega banget rasanya begitu nyampe rumah dan masuk kamar.

Fiuh.

Heran deh.

Ada ya orang yang segitu temperamentalnya, yang emosinya naik turun gak karuan, yang bisa marah-marah hebat, dan ngomong sedemikian kasarnya sama orang lain padahal jelas-jelas itu kesalahannya sendiri dan nggak ada sangkut pautnya sama orang lain. Dibantuin cari solusi, eh, ditolak mentah-mentah dengan alasan "aku bisa kok ngurusin ini sendirian" padahal aslinya juga pontang-panting dan gak tau harus gimana. Iiiiih!! Sombong banget sih jadi orang..

Kok ya si orang lain, sang obyek penderita yang jadi sasaran kemarahan ini, nerima aja dibegituin. Nggak marah, nggak emosi. Meskipun dibentak-bentak gak jelas, dicuekin waktu nawarin bantuan, disalah-salahin padahal jelas-jelas itu bukan kesalahan dia. Sabar banget. Padahal saking kasarnya, saya sampai ikut sakit hati denger omongannya. Serentetan pembelaan dan balasan saya atas tuduhannya yang nggak logis sudah untup-untup di ujung mulut saya. Kalo aja saya nggak inget dia itu orang yang sangat saya sayang dan hormati, pengen rasanya meng-counter segala omongannya yang nggak bener dengan nada yang sama kasarnya. Biar dia nyadar: itu menyakitkan.

Seorang pimpinan itu harusnya belajar dari kesalahan, bukannya denying. Keliatan banget childish-nya. Mbok ya malu sama umur!

aaaaaaaargggh!!!!

Hal ini bikin mood saya jelek banget. Keluar kamar aja males. Malam ini saya di sini aja deh. Menikmati kesendirian dalam pengasingan, sambil menambal luka yang sudah kronis di hati saya.

Semoga suatu saat nanti dia bisa berubah. Semoga belum terlambat.

Ah..

Semoga besok semuanya jadi lebih baik.

Semoga.

saatnya berpisah..

~dedicated to my beloved monkeys…~

Kemarin Joi, Joa dan Valen *ketiga kera peliharaan saya* akhirnya dipindahkan ke kebun binatang.

Hiks..

Foto1404 Joi, Joa, dan Valen adalah kera jenis Jacky jacky, dan mereka adalah satu keluarga. Saya pertamakali dihadiahi Joi *si papa* sekitar 10 tahunan yang lalu sama salah seorang kolega bapak saya. Waktu itu dia masih keciiil. Umurnya sekitar 6 bulanan, masih lucu-lucunya. Manja dan lengket banget kalo sama saya atau mama. Tapi seiring dia tambah gede, sudah susah ngajak dia main-main lagi. Tenaganya tambah kuat dan dia sudah mulai suka berahi kalo liat orang perempuan, apalagi kalo itu perempuan lagi mens. Serem lah pokoknya. Akhirnya karena kasihan, mama saya pun mencarikan pasangan buat si Joi. Setelah mblusuk ke mana2 cari kera yang jenisnya sama, akhirnya didapatkanlah Joa *si mama*. For a while, akhirnya kami tenang karena si Joi sudah punya tempat ‘pelampiasan’. Setelah ‘pacaran’ sekitar 2-3 tahun, hamil lah si Joa. Dan, 14 Februari 2003 jam 05.00 pagi, lahirlah si Valen *the baby-girl*. Mama saya yang motong tali pusatnya. Lengkaplah sudah keluarga kera di rumah kami.

Sedih sih..Tapi mau gimana lagi. Semakin lama mereka makin susah untuk dikendalikan. Joi misalnya. Si papa monkey ini umurnya udah sekitar 10 tahun lebih, beratnya ada kira-kira 15 kg. Dengan badan segede bagong itu, bukan hal yang susah bagi dia untuk membengkokkan jeruji besi kandangnya dan kabur ke mana-mana, sampai kandangnya sudah ganti 2 kali dan masing2 dengan jeruji yang lebih tebal diameternya plus dengan pengamanan yang lebih ketat seperti dobel gembok, plat penahan jeruji, de-el-el. Kalo kita nggak teliti dan nggak hati-hati naruh barang, si mama Joa bisa menyaut apa aja yang ada di sekitar kandang dan mengutak-atik gembok dan selot pintu kandang mereka sampe terbuka. Yes people, monkeys are smart animals..

Yang paling meresahkan dalam memelihara mereka adalah satu hal: kalo mereka kabur. Apalagi si Joi. Wah, ampun-ampunan deh! Jaman dia masih kecil mungkin cuma ngerusak genteng tetangga atau nyolong mangga. Tapi (seperti kera jantan yang lain) begitu Joi tambah besar, taringnya tumbuh besar dan dia jadi lebih agresif. Dia bisa menyerang dan menggigit orang. Dipa, adek saya,  pernah digigit sampe mesti operasi kecil dan opname di IRD segala. Terakhir kali lepas, dia menggigit tetangga jauh saya, sampai harus dijahit dan rawat jalan ke RS.

And that was the final hit. Nggak ada toleransi lagi. Bapak saya langsung dengan tegas memutuskan: Mereka harus dipindahkan dari rumah sebelum mencelakai orang lain lebih parah lagi.

Berat memang. Apalagi buat mama saya yang emotionally attached dengan binatang-binatang peliharaannya. Beliau sempat ragu, apa iya kalau nanti dipindahkan ke kebun binatang mereka akan dirawat dengan baik? Diberi makanan yang cukup? Diberi perhatian? Diajak main setiap hari? Gimana kalau nanti mereka mati karena terlantar dan nggak diberi makan? Mama saya berusaha membujuk bapak saya dengan segala cara supaya mereka tetap tinggal dirumah, tapi bapak saya keukeuh dengan keputusannya. Dan kali ini, saya setuju dengan bapak saya. Bagaimanapun juga, ini jalan yang terbaik buat semuanya.

Setelah survey ke beberapa tempat konservasi, akhirnya Foto1454 dipilihlah Kebun Binatang Surabaya. Dengan alasan:

  • Mereka sanggup nerima keluarga kera ini dan bersedia tetap membiarkan mereka berkumpul jadi satu

  • Di situ mereka nggak akan dikerangkeng, tapi akan dilepas di sebuah ‘pulau’, jadi mereka bisa bebas lari-larian dan nggak harus dirantai lagi tanpa harus takut akan melukai orang.

  • Petugas dan pimpinannya kelihatannya cukup kompeten, mengerti apa yang kami mau, dan bertanggung jawab akan binatang-binatangnya *InsyaAllah*

  • Masih di Surabaya, jadi kami bisa sering menengok mereka.

Yah, begitulah. Hal ini sudah banyak menguras air mata saya dan mama saya selama beberapa bulan terakhir ini. Jadi kemarin kami tidak lagi berurai haru dan air mata melepas mereka. Kami berusaha sekooperatif mungkin dengan petugas KBS supaya pemindahannya lancar. Nyediain alat buat ngebuka kandang dan rantai, mengalihkan perhatian Joi dan Joa ketika akan dibius, bantuin memindahkan mereka ke kandang transportnya, nyediain kates (pepaya) dan makanan2 kecil lainnya buat sangu mereka ketika nanti sudah bangun dari efek anestesinya.

Yang menohok banget adalah ternyata bukan cuma kami yang kehilangan. Banyak banget tetangga-tetangga sekitar, pak satpam, bahkan tukang sayur dan anak-anak kecil dari RW sebelah yang datang melepas kepergian keluarga kecil ini. Nggak ada lagi hiburan nonton tingkah Joi, Joa, dan Valen buat anak-anak kecil yang sepedaan tiap sore. Nggak ada lagi tontonan buat anak-anak balita yang didulang para ibu atau babysitternya tiap sore dibelakang rumah biar mau makan. Dan Doyok si tukang sayur akan kehilangan Joi-Joa yang selalu heboh saat dia lewat, juga kehilangan pelanggan tetap jualan kates-nya. Semuanya ikut dadah-dadah dan mengucapkan selamat tinggal ketika mobil KBS membawa pergi Joi, Joa dan Valen yang masih teler di dalam kandang. Jujur, ini saat yang paling ngena banget buat saya. Saya nggak nyangka aja, ternyata banyak yang sayang sama mereka.

Kemarin malam, kami masih bisa melupakan mereka dengan jalan-jalan dan makan di luar. Tapi, hari ini baru kerasa betapa sepinya rumah kalo nggak ada mereka. Nggak ada lagi yang ber-“uu-aah-uu-ah” sambil berisik goyangin kandang kalo malem. Nggak ada lagi rutinitas kasih maem tiap hari. Nggak ada lagi Valen yang suka mengenggam telunjuk saya erat-erat dan sibuk mètani tangan saya yang jelas-jelas nggak ada kutunya. Dua kandang itu sekarang kosong, meninggalkan bolong yang gede di hati kami.

Joa, Joi, Valen..

Baik-baik ya kalian di sana. Semoga kalian bahagia, akhirnya kalian bisa bebas. Nggak dirantai lagi. Nggak dikandang lagi. Bisa lari-lari, gelantungan, main air. Semua hal yang kalian suka. Kita akan sering-sering datang, jenguk kalian. Bawain kalian kates yang manis-manis dan kue-kue. Kalian harus sehat ya.. Kita semua disini kangen kalian..

:”(

daydream delusion

Saya menontonnya, lagi. Untuk yang kesekian kali.

Dia selalu tertawa ketika saya bilang, saya menyukai film ini karena cara mereka mereka berdua berbicara tentang banyak hal mengingatkan saya pada kami. Bahkan sebelum kebersamaan itu terjadi.

Daydream delusion, limousine eyelash

Oh baby, with your pretty face

Drop a tear in my wineglass

Look at those big eyes

See what you mean to me

Sweet-cakes and milkshakes

I’m a delusion angel

I’m a fantasy parade

I want you to know what I think

Don’t want you to guess anymore

You have no idea where I came from

We have no idea where we’re going

Lodged in life

Like branches in a river

Flowing downstream

Caught in the current

I carry you

You’ll carry me

That’s how it could be

Don’t you know me?

Don’t you know me by now?

{a meaningful (& thoughtful) 18 months. Terimakasih Tuhan.}