~dedicated to my beloved monkeys…~
Kemarin Joi, Joa dan Valen *ketiga kera peliharaan saya* akhirnya dipindahkan ke kebun binatang.
Hiks..
Joi, Joa, dan Valen adalah kera jenis Jacky jacky, dan mereka adalah satu keluarga. Saya pertamakali dihadiahi Joi *si papa* sekitar 10 tahunan yang lalu sama salah seorang kolega bapak saya. Waktu itu dia masih keciiil. Umurnya sekitar 6 bulanan, masih lucu-lucunya. Manja dan lengket banget kalo sama saya atau mama. Tapi seiring dia tambah gede, sudah susah ngajak dia main-main lagi. Tenaganya tambah kuat dan dia sudah mulai suka berahi kalo liat orang perempuan, apalagi kalo itu perempuan lagi mens. Serem lah pokoknya. Akhirnya karena kasihan, mama saya pun mencarikan pasangan buat si Joi. Setelah mblusuk ke mana2 cari kera yang jenisnya sama, akhirnya didapatkanlah Joa *si mama*. For a while, akhirnya kami tenang karena si Joi sudah punya tempat ‘pelampiasan’. Setelah ‘pacaran’ sekitar 2-3 tahun, hamil lah si Joa. Dan, 14 Februari 2003 jam 05.00 pagi, lahirlah si Valen *the baby-girl*. Mama saya yang motong tali pusatnya. Lengkaplah sudah keluarga kera di rumah kami.
Sedih sih..Tapi mau gimana lagi. Semakin lama mereka makin susah untuk dikendalikan. Joi misalnya. Si papa monkey ini umurnya udah sekitar 10 tahun lebih, beratnya ada kira-kira 15 kg. Dengan badan segede bagong itu, bukan hal yang susah bagi dia untuk membengkokkan jeruji besi kandangnya dan kabur ke mana-mana, sampai kandangnya sudah ganti 2 kali dan masing2 dengan jeruji yang lebih tebal diameternya plus dengan pengamanan yang lebih ketat seperti dobel gembok, plat penahan jeruji, de-el-el. Kalo kita nggak teliti dan nggak hati-hati naruh barang, si mama Joa bisa menyaut apa aja yang ada di sekitar kandang dan mengutak-atik gembok dan selot pintu kandang mereka sampe terbuka. Yes people, monkeys are smart animals..
Yang paling meresahkan dalam memelihara mereka adalah satu hal: kalo mereka kabur. Apalagi si Joi. Wah, ampun-ampunan deh! Jaman dia masih kecil mungkin cuma ngerusak genteng tetangga atau nyolong mangga. Tapi (seperti kera jantan yang lain) begitu Joi tambah besar, taringnya tumbuh besar dan dia jadi lebih agresif. Dia bisa menyerang dan menggigit orang. Dipa, adek saya, pernah digigit sampe mesti operasi kecil dan opname di IRD segala. Terakhir kali lepas, dia menggigit tetangga jauh saya, sampai harus dijahit dan rawat jalan ke RS.
And that was the final hit. Nggak ada toleransi lagi. Bapak saya langsung dengan tegas memutuskan: Mereka harus dipindahkan dari rumah sebelum mencelakai orang lain lebih parah lagi.
Berat memang. Apalagi buat mama saya yang emotionally attached dengan binatang-binatang peliharaannya. Beliau sempat ragu, apa iya kalau nanti dipindahkan ke kebun binatang mereka akan dirawat dengan baik? Diberi makanan yang cukup? Diberi perhatian? Diajak main setiap hari? Gimana kalau nanti mereka mati karena terlantar dan nggak diberi makan? Mama saya berusaha membujuk bapak saya dengan segala cara supaya mereka tetap tinggal dirumah, tapi bapak saya keukeuh dengan keputusannya. Dan kali ini, saya setuju dengan bapak saya. Bagaimanapun juga, ini jalan yang terbaik buat semuanya.
Setelah survey ke beberapa tempat konservasi, akhirnya
dipilihlah Kebun Binatang Surabaya. Dengan alasan:
- Mereka sanggup nerima keluarga kera ini dan bersedia tetap membiarkan mereka berkumpul jadi satu
- Di situ mereka nggak akan dikerangkeng, tapi akan dilepas di sebuah ‘pulau’, jadi mereka bisa bebas lari-larian dan nggak harus dirantai lagi tanpa harus takut akan melukai orang.
- Petugas dan pimpinannya kelihatannya cukup kompeten, mengerti apa yang kami mau, dan bertanggung jawab akan binatang-binatangnya *InsyaAllah*
- Masih di Surabaya, jadi kami bisa sering menengok mereka.
Yah, begitulah. Hal ini sudah banyak menguras air mata saya dan mama saya selama beberapa bulan terakhir ini. Jadi kemarin kami tidak lagi berurai haru dan air mata melepas mereka. Kami berusaha sekooperatif mungkin dengan petugas KBS supaya pemindahannya lancar. Nyediain alat buat ngebuka kandang dan rantai, mengalihkan perhatian Joi dan Joa ketika akan dibius, bantuin memindahkan mereka ke kandang transportnya, nyediain kates (pepaya) dan makanan2 kecil lainnya buat sangu mereka ketika nanti sudah bangun dari efek anestesinya.
Yang menohok banget adalah ternyata bukan cuma kami yang kehilangan. Banyak banget tetangga-tetangga sekitar, pak satpam, bahkan tukang sayur dan anak-anak kecil dari RW sebelah yang datang melepas kepergian keluarga kecil ini. Nggak ada lagi hiburan nonton tingkah Joi, Joa, dan Valen buat anak-anak kecil yang sepedaan tiap sore. Nggak ada lagi tontonan buat anak-anak balita yang didulang para ibu atau babysitternya tiap sore dibelakang rumah biar mau makan. Dan Doyok si tukang sayur akan kehilangan Joi-Joa yang selalu heboh saat dia lewat, juga kehilangan pelanggan tetap jualan kates-nya. Semuanya ikut dadah-dadah dan mengucapkan selamat tinggal ketika mobil KBS membawa pergi Joi, Joa dan Valen yang masih teler di dalam kandang. Jujur, ini saat yang paling ngena banget buat saya. Saya nggak nyangka aja, ternyata banyak yang sayang sama mereka.
Kemarin malam, kami masih bisa melupakan mereka dengan jalan-jalan dan makan di luar. Tapi, hari ini baru kerasa betapa sepinya rumah kalo nggak ada mereka. Nggak ada lagi yang ber-“uu-aah-uu-ah” sambil berisik goyangin kandang kalo malem. Nggak ada lagi rutinitas kasih maem tiap hari. Nggak ada lagi Valen yang suka mengenggam telunjuk saya erat-erat dan sibuk mètani tangan saya yang jelas-jelas nggak ada kutunya. Dua kandang itu sekarang kosong, meninggalkan bolong yang gede di hati kami.
Joa, Joi, Valen..
Baik-baik ya kalian di sana. Semoga kalian bahagia, akhirnya kalian bisa bebas. Nggak dirantai lagi. Nggak dikandang lagi. Bisa lari-lari, gelantungan, main air. Semua hal yang kalian suka. Kita akan sering-sering datang, jenguk kalian. Bawain kalian kates yang manis-manis dan kue-kue. Kalian harus sehat ya.. Kita semua disini kangen kalian..
:”(