nobody said it was easy..
I saw a baby died in front of my eyes last night.
By ‘saw’ I mean not only to see the dead body, but to be a witness of the whole process, from resuscitation effort until the baby’s little heart didn’t beat any longer.
Saya nggak sempat bertanya apa yang menimpa bayi mungil itu sampai dia harus masuk ruang resusitasi di IRD. Dari ukuran tubuhnya, usianya kira-kira baru beberapa bulan. Saat saya datang, dia sedang dipasangi sungkup oksigen. Sekilas, saya nggak melihat jejas apapun di tubuh si bayi kecuali sedikit edema. Mungkin penyakit metabolik, atau cedera internal yang meyebabkan si bayi ini mengalami distress nafas & gangguan sirkulasi. Baru beberapa saat mulai membaik, kondisinya tiba-tiba drop lagi. Henti jantung. Tensi drop. Suasana di dalam jadi sangat hectic. Para perawat dan PPDS Anestesi bergantian melakukan pijat jantung dan memonitor detak jantung si bayi. Keluarga si bayi yang mengintip cemas dari balik pintu ruang resusitasi mencoba masuk melihat keadaannya. Melihat si bayi diberi pijat jantung, beberapa anggota keluarganya mulai berlinangan air mata. Mereka mulai sadar, bayi mungil ini begitu dekat dengan maut. Selama hampir 5 menit, para perawat dan PPDS melakukan pijat jantung tanpa berhenti. Selama itu pula, saya memanjatkan doa dalam hati, semoga Tuhan menyelamatkan bayi mungil ini. Dalam hati saya berseru, “Ayo dik, kamu bisa! Berjuang! Berjuang! Berjuang! Kamu bisa!!”
Rupanya Tuhan begitu menyayangi makhluk mungil ini, sehingga Dia nggak membiarkannya kelelahan berlama-lama berjuang melawan maut. Setelah beberapa menit, bayi mungil itu pun meninggal. Ibu si bayi tampak tidak percaya dan mulai menangisi kepergian anaknya. Seorang perempuan muda sepantaran saya ikut menangis histeris, sambil berujar, “Adikku.. Adikku..” Nggak terasa, tau-tau air mata saya ikut menggenang. Kasihan. Saya juga punya adik yang masih kecil, dan saya bisa merasakan betapa sedihnya sebuah keluarga yang kehilangan seorang bayi mungil yang sedang lucu-lucunya.
Seorang teman kemudian berbisik di telinga saya sambil menyodorkan sehelai tisu, “Hapus airmatamu. Jangan sampai keluarganya liat kamu ikut nangis. Bisa bikin mereka semakin down.” Saya lihat sekeliling saya. Para perawat mulai mencopoti selang infus si bayi, mengikat tangan & kakinya dengan kain putih, menutupnya dengan kain, dan mendorong jenazahnya keluar diiringi isak tangis keluarganya.
Damn! Tenyata memisahkan simpati dan empati memang nggak semudah mengatakannya ya…
Ini pekerjaan yang sangat high tension, karena berpacu dengan waktu dan nyawa. Sangat butuh ketenangan dan konsentrasi.Saya mesti belajar untuk nggak melibatkan emosi terlalu dalam dengan pasien. Nantinya, saya akan melihat kejadian seperti ini berkali-kali setiap hari. Being too emotionally involved will only reduced my ability to save their life optimally.
Nobody said it was easy. But I have to learn.
Life’s tough, dear.
Huff….


pas jaga ya?
siap gak sih kita menghadapi more n more of dat thing?hwaa
so sad
aku donk pas jaga ga liat pasien blas, huhuhu
dinda said this on December 3, 2008 at 8:20 pm
It is, dear.
Huff, being anything is not easy. Doctor, Lawyer, anything.
p0e said this on December 4, 2008 at 8:30 am
jujur..
Iri bangetz meninggal pas bayi..!!!
Langsung ke Surga.>!!!
faizal mahdi said this on December 16, 2008 at 11:09 pm