forgiven. and forgotten.
“Memaafkan akan menghentikan perlambatan hidup anda,” kata Mario Teguh.
Kalimat di atas bikin saya terpaku beberapa saat dan merenunginya selama berdetik-detik kemudian.
Susah memang rasanya memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, apalagi kalau sudah menyangkut personal matters. Saya sendiri juga punya pengalaman dengan beberapa orang yang pernah bikin saya sakit hati. Bikin saya males dan nggak mau berhubungan lagi dengan orang itu. Jangankan baikan, ngomong aja bisa-bisa saya nggak sudi. Saya anggap orang itu nggak pernah ada dalam hidup saya. Dan dalam hati seringkali muncul rasa benci dan kesel setengah mati tiap ketemu atau denger sesuatu tentang orang itu.
Dalam salah satu obrolan kami, pacar saya pernah tanya: “Kenapa sih kalian cewek-cewek suka segitunya kalo gak suka sama orang lain [baca: cewek lain]? Kaya cowok dong. Nggak suka, bilang langsung : ‘Rese lo!’. Kalo perlu berantem sekalian, satu lawan satu. Tapi abis itu udah, beres.” Argumen saya waktu itu, yaa.. gimana-gimana juga masalah antar cewek itu beda sama masalah antar cowok. Lebih kompleks. Cowok main fisik, cewek main hati. There are lots of mean girls out there, and they can easily hurt you with their mean tongue & attitude. Memar atau luka karena berantem, paling seminggu dua minggu udah sembuh. Tapi kalau lukanya di hati, susah banget sembuhnya. Akhirnya pembicaraan kami berakhir tanpa solusi karena saya masih keukeuh bahwa orang boleh minta maaf, tapi sakit hati yang dia timbulkan nggak akan pernah hilang. Forgiven, but not forgotten.
Balik lagi ke konsep maaf. Kalo seseorang minta maaf itu kan artinya dia menyesali perbuatannya dan nggak akan mengulanginya lagi. Buat saya ini yang penting. Bukan masalah minta maafnya. Percuma aja minta maaf berkali-kali kalau masih diulangi lagi. Sayangnya, justru inilah yang seringkali terjadi sama saya. Saya maafkan, tapi lagi-lagi saya disakiti. Dicurangi. Dibohongi. Dimanfaatkan. Dianggap bodoh. Ditusuk dari belakang. Makanya saya capek. Kalo orang bisa minta maaf di mulut aja, saya juga bisa kok maafin di mulut aja.
Tapi kata-katanya Mario Teguh tadi malam membuat saya berpikir lagi. Apa ya iya saya mau tetep menyimpan rasa sakit hati saya? Mau terus-terusan benci? Sampai kapan? Tanpa disadari, sebenernya [kumpulan] rasa sakit hati itu selama ini saya pikul terus. Kemarahan dan kebencian yang kadangkala muncul setiap kali teringat betapa orang lain pernah menyakiti perasaan saya diam-diam memupuk beban itu dan membuatnya bertambah berat. Dan, yah, beban yang makin berat itu memperlambat hidup saya. Membuat saya susah bergerak dan melupakan masa lalu, yang bagaimanapun juga nggak bisa diulang kembali dan diubah. Padahal di hadapan saya ada masa depan, yang saya tahu bisa saya jadikan lebih baik.
Di akhir acaranya tadi malam, Mario Teguh memberi kesimpulan berikut: ”Tegaskanlah membebaskan diri anda untuk hidup seutuhnya, tanpa sakit hati dan dendam yang membebani.
Maafkanlah masa lalu anda.”
Jadi saya putuskan, mulai saat ini saya akan mengubah cara pandang saya tentang hal ini. Saya ingin memberikan maaf dengan tulus, tanpa ekspektasi.
Kalo orang yang saya maafkan bener-bener menyesal, ya syukur Alhamdulillah. Kalo nggak, ya udah. Itu urusan dia. Yang penting saya mau turunin isi ‘bagasi’ saya, menguncinya, dan membuang kuncinya jauh-jauh. Supaya saya nggak tergoda untuk ngintip isinya lagi dan mengenang rasa sakit hati yang pernah ada. Saya capek. Punggung saya pegel. Saya pengen berjalan ke depan dengan langkah yang enteng dan senyum lega.
“Only the strong forgives” - Mahatma Gandhi
Dan saya memaafkan kamu.


Huumm…
Ned…
hahahaha…
pgn ketawa aq baca tulisanmu,bukan karna lucu,karna emang ga ada yang lucu…tapi jadi bikin mikir…setahun ini aku nyimpen dendam..yang…you know laah…hehe…
ga bisa Ned..ga bisa..aku terlalu sayang dia jadi bisa membencinya dan mencintainya secara bersamaan dan berlebihan…ngerti rasanya ga Ned???
tapi tadi pagi aku dah kirim sms..aku minta maaf..utk alasan apapun yg bisa dia pake utk berpisah dgnku..aku kangen dia Ned…
tapi ga dibales…
d-a-jeng said this on October 1, 2008 at 8:43 pm
ngerti kok jeng..
menurutku bukan masalah kamu yang minta maaf, tapi kamu yang MEMAAFKAN.
memaafkan dia karena sudah menyakiti kamu. *sengaja ataupun nggak*
memaafkan keputusannya untuk meninggalkan kamu.
memaafkan dia untuk semua kenangan dan airmata yang sudah kamu tumpahkan buat dia.
memaafkan keadaan yang nggak memungkinkan kalian untuk bersama.
maafkanlah, jeng..
gak penting dia minta maaf balik atau nggak.
yang penting beban itu udah kamu lepas, jadi nggak ada alasan buat sedih lagi.
karena kamu layak untuk bahagia
anedyaniedar said this on October 2, 2008 at 11:10 am
huhauhuahuahuaa……. hayo… passnya simple koq… sama kayak salah 1 password di sex & the city the movie…..
isine mupeng soale ned, makae hahahauahuahuah adi protect lak ketok ngkok hencie mupeng….
malu dong aw
sev said this on October 3, 2008 at 8:33 am
minal aidin wal faidzin..
mohon maaf lahir batin..
(telat gak sih??)
faizal mahdi said this on October 28, 2008 at 10:40 pm
ned…. kalo kita ikutan menjauhi seseorang karna “solidaritas” karna orang tersebut telah menyakiti org2 yg aku sayang gimana mnurutmu? salah kah? dalam hatiku sih pribadi ga ada dendam
sunshineformyself said this on October 29, 2008 at 4:49 pm
ndun:
sebenernya aku nggak terlalu setuju dengan konsep ‘musuh kolektif’. cuma yah kalo temen kita udah terlanjur jatuh kesandung batu, ya lebih baik kita ati2 juga sama batunya, jangan sampe ikutan kesandung juga ;p
nggak dendam loh. cuma aware
anedya said this on October 31, 2008 at 2:44 am
ya ampun.masi dibahas aja soal maaf-memaafkan?
cara paling gampang: maafkan dan berteman lagi.
kayak jaman masi kecil dulu lah.
abis berantem, baikan, besok main bareng lagi.
gampang kan?
iqbal said this on December 19, 2008 at 10:06 am
udah dimaafin kok.
kalo main bareng lagi, hmm.. keliatannya udah beda orientasi masing2 deh.. i don’t think we can get along well anymore.
but i will re-conciliate. i’m just waiting for the right time to do it
anedyaniedar said this on December 20, 2008 at 9:41 pm