header image
 

jangan jadi golput!

Kemarin sore, saya dan bapak ibu saya
sedang nonton tv duduk-duduk di ruang keluarga. Beberapa kali
scanning channel tv, perhatian kami tersedot pada salah satu channel
yang lagi menayangkan debat terbuka pilkada jatim. “Wes,wes
mbak.. nonton ini aja.. buat patokan nanti tanggal 23 kita nyoblos apa
”.
Di acara ini, 5 pasangan cagub-cawagub jatim yang akan bersaing
memperebutkan suara tanggal 23 Juli nanti diadu pendapatnya tentang
berbagai permasalahan aktual jatim, disaksikan live oleh sekian banyak penonton
dan tiga orang pakar sebagai panelis.

Saat tiba giliran salah satu pasangan
mengemukakan visi misi (yang menurut saya cukup bombastis, kalau
tidak mau dibilang muluk-muluk) antara lain kenaikan hasil tani
sebesar 200%, kesehatan murah, sekolah gratis dan bla bla bla,
terdengan seorang penonton dengan suara lantang berkomentar,
Mbojooook!!!” Wahaha.. sumpah saya pengen ketawa tuh..

Sambil nonton, mama cerita kalo
beberapa hari terakhir ini, anak salah seorang cagub (sebut aja cagub
A) yang kebetulan juga sekretaris area manager di kantor mama
bagi-bagi segala macem pernak-pernik macam kaos, notes, payung, tas
de-el-el yang berhubungan dengan bapaknya tercinta, tentunya sambil
tak lupa berpesan sama temen-temen sekantornya buat memilih bapaknya
tanggal 23 nanti.

Jadi inget, beberapa waktu lalu pas
nganterin mama periksa ke internistnya yang itungannya udah lumayan
senior (udah Prof), tiba2 ditengah konsultasi si Prof ini ditelpon
sama salah satu cagub yang lain (sebut aja cagub B). Dari
pembicaraannya yang sepotong-sepotong itu, kami bisa nangkep kalo si
cagub B ini lagi nanya gimana perkembangan usaha si Prof untuk
mengajak orang-orang sekelilingnya ~termasuk dokter-dokter lain dan
suster-suster di RS~ untuk milih dia. Pas itu sih saya & mama
cuma bisa melongo aja dengan tampang bloon, ternyata para cagub ini
bener-bener berekspansi kemana-mana ya..sampe kalangan dokter senior
aja (yang notabene termasuk kaum intelektual high class) bisa
dijadiin kader penggalang suara..

Malamnya, saya datang ke acara kawinan
anak dari kakak salah seorang sahabat bapak saya. Beliau ini seorang
petinggi di departemen dalam negeri  ~or something like that, saya
gak terlalu merhatiin~  Gak heran ini orang buat acara mantu anaknya
aja ngundang 3500 undangan, sampe ngantri salamannya panjang banget
kaya uler. Diantara para undangan, saya sempet melihat ada menteri
pemberdayaan perempuan bu Meutia Hatta, yang sedang duduk manis makan
di zona VIP  dan tiba-tiba didatangi oleh salah satu cagub (cagub C)
yang lumayan terkenal. Ckckck.. heran ya, lagi jagong manten kok ya
sempet-sempetnya cari bekingan politik…

Yah..cerita-cerita diatas cuma beberapa
contoh kasus. Ah, politik.. Ngerti apa juga saya tentang politik.
Saya kan cuma penonton. Pengamat dari jauh. Komentator. Yang saya
tahu, politik itu memang manipulatif, karena ini adalah bisnis
kekuasaan; dimana
kekuasaan = uang. Tapi ada satu nih yang
menggelitik. Semakin dekat dengan hari-H, makin banyak saya denger
selentingan dari orang-orang disekitar saya untuk golput aja.

Kenapa mereka memilih jadi golput?

  • “Percuma juga milih.
    Calon-calonnya meragukan semua. Janji-janji setinggi langit.
    Bullshit! Aku gak percaya!”

  • “Aku bingung milih. Mendingan
    golput aja deh..”

  • “Maless ah..repot.” (
    ckckck… *alasan yang paling gak penting*)

Well, tidak ada salahnya bersikap
skeptis. Being skeptical membuat kita nggak mudah percaya dan lebih
rasional. Kalo kita mau lihat dari sisi negatifnya, gimana-gimana
tiap calon ya pasti ada busuk-busuknya juga.
Ini politik bung, bukan
fairytale
. Urusan politik adalah bisnis kotor, bukan mimpi
indah penuh bunga-bunga. Sebaik apapun mukanya, tetep ada maksud
terselubung disitu. Unsur kepentingan pribadi pasti ada.

Tapi jadi golput bukan solusi terbaik.
Toh dalam pemilihan tetap suara terbanyak yang akan menang.  Dengan
jadi golput, hilang sudah satu kesempatan memperoleh kinerja
pemerintahan yang lebih baik. Mungkin kita berpikir, “Ah..Cuma satu
orang aja. Gak ngefek lah..
”.

Eits, inget! Nggak cuma situ aja lho
yang berpikir kaya gitu. Barusan saya sempet googling di kompas.com, pada
pilkada jateng awal juli kemarin: jumlah yang golput mencapai
41,5%. Sayang
banget, karena sekian banyak suara itu jumlah yang lumayan signifikan
kalo dipake untuk mendukung salah satu yang paling mending diantara
sekian banyak calon yang ada. Misalkan pada penghitungan suara
ternyata ada 2 kubu yang bersaing ketat, perolehan suaranya beda
tipis. Nah, pada saat-saat seperti itu, satu suara aja berharga
banget artinya. Iya kalo yang menang adalah calon yang bener-bener
kompeten dan berdedikasi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Lha kalo
yang menang calon yang licik dan pake money politics atau cara-cara
yang nggak bener untuk memanipulasi rakyat kecil supaya dapat suara
terbanyak? Yang ada malah rakyat makin miskin karena duit rakyat
terus menerus diporotin dan struktur pemerintahan jadi tambah bobrok.

Pertimbangkan baik-baik sebelum
memilih. OK, mungkin hampir semua calonnya tampak tidak meyakinkan.
At least pilihlah yang tampak paling mending diantara yang lain. Yang
punya visi misi yang cukup jelas dan program kerja yang applicable.
Yang nggak memberikan janji-janji yang terlalu muluk. Yang
track-recordnya cukup bersih. Dan kira-kira cukup kredibel dan dapat
dipercaya mengemban amanat rakyat.

Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik, jangan sia-siakan hak pilih anda. Use it with full consideration. Suara anda
bisa membawa perubahan, sekecil apapun itu
. Jangan asal pilih, tapi
juga jangan golput. Jangan biarkan harga diri anda dibeli hanya
dengan sekedar kaos, tas, uang, atau janji muluk. Pikirkan baik-baik.
Because your voice counts.

*siap-siap mencoblos*

Happy voting, everybody!! :)

 

~ by anedyaniedar on July 22, 2008.

2 Responses to “jangan jadi golput!”

  1. aku juga gak mau golput nex, tapi.. ternyata malah aku gak nyoblos besok!!!

    *cengar cengir*

    maaf ya negara, saya lebih mementingkan kerjaan ;-)

  2. stujuuu…
    this golput thing is really a situation, liat aja headline di koran “GOLPUT MENANG”
    alesannya sih karna byk yg ga punya kartu nyoblos..
    tpi aku tau kok byk yg punya pun ogah nyoblos =D
    anyway kalo aku, nyoblosnya karna ndeso pgn tau piye to rasanya nyoblos yg bneran??trus jg ksian ma panitianya yg uda capek2 bangun tenda n nungguin di tps.. well, they r the trully heroes =D

Leave a Reply