header image
 

stop this train

 

No, I’m not colorblind
I know the world is black and white
I try to keep an open mind
But I just can’t sleep on this tonight

Stop this train
I want to get off
And go home again
I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
But honestly, won’t someone stop this train?

Don’t know how else to say it
I don’t want to see my parents go
One generation’s length away
From fighting life out on my own

Stop this train
I want to get off
And go home again
I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
But honestly, won’t someone stop this train?

So scared of getting older
I’m only good at being young
So I play the numbers game
To find a way to say that life has just begun

Had a talk with my old man
Said, “Help me understand”
He said “Turn sixty-eight,
You re-negotiate”

“Don’t stop this train
Don’t for a minute change the place you’re in
Don’t think I couldn’t ever understand
I tried my hand
John, honestly we’ll never stop this train”

Once in a while, when it’s good
It’ll feel like it should
And they’re all still around
And you’re still safe and sound
And you don’t miss a thing
Till you cry when you’re driving away in the dark
Singing

Stop this train
I want to get off
And go home again
I can’t take the speed it’s moving in
I know I can’t
Cause now I see I will never stop this train

OK. This is it.

I hate to admit it, but yes, I am EXHAUSTED.

I’m not such a cry-baby person; I don’t used to complain about things. But what happened in my life lately were just too much to bear. Everything happened so fast, I thought it was just a blink. And then, bum, I’m landed on this fast-moving train. And I can’t get out.

Sometimes I wish I could turn back time, go back to the point where everything was fine. Sometimes I just want to yell, “Damn, I just want my good old life back!!”

But now I know I can’t, because life always goes to a point when there is no turning back.

And now, I just feel…

 

Empty.

nobody said it was easy..

I saw a baby died in front of my eyes last night.

 

By ‘saw’ I mean not only to see the dead body, but to be a witness of the whole process, from resuscitation effort until the baby’s little heart didn’t beat any longer.

 

Saya nggak sempat bertanya apa yang menimpa bayi mungil itu sampai dia harus masuk ruang resusitasi di IRD. Dari ukuran tubuhnya, usianya kira-kira baru beberapa bulan. Saat saya datang, dia sedang dipasangi sungkup oksigen. Sekilas, saya nggak melihat jejas apapun di tubuh si bayi kecuali sedikit edema. Mungkin penyakit metabolik, atau cedera internal yang meyebabkan si bayi ini mengalami distress nafas & gangguan sirkulasi. Baru beberapa saat mulai membaik, kondisinya tiba-tiba drop lagi. Henti jantung. Tensi drop. Suasana di dalam jadi sangat hectic. Para perawat dan PPDS Anestesi bergantian melakukan pijat jantung dan memonitor detak jantung si bayi. Keluarga si bayi yang mengintip cemas dari balik pintu ruang resusitasi mencoba masuk melihat keadaannya. Melihat si bayi diberi pijat jantung, beberapa anggota keluarganya mulai berlinangan air mata. Mereka mulai sadar, bayi mungil ini begitu dekat dengan maut. Selama hampir 5 menit, para perawat dan PPDS melakukan pijat jantung tanpa berhenti. Selama itu pula, saya memanjatkan doa dalam hati, semoga Tuhan menyelamatkan bayi mungil ini. Dalam hati saya berseru, “Ayo dik, kamu bisa! Berjuang! Berjuang! Berjuang! Kamu bisa!!”

 

Rupanya Tuhan begitu menyayangi makhluk mungil ini, sehingga Dia nggak membiarkannya kelelahan berlama-lama berjuang melawan maut. Setelah beberapa menit, bayi mungil itu pun meninggal. Ibu si bayi tampak tidak percaya dan mulai menangisi kepergian anaknya. Seorang perempuan muda sepantaran saya ikut menangis histeris, sambil berujar, “Adikku.. Adikku..” Nggak terasa, tau-tau air mata saya ikut menggenang. Kasihan. Saya juga punya adik yang masih kecil, dan saya bisa merasakan betapa sedihnya sebuah keluarga yang kehilangan seorang bayi mungil yang sedang lucu-lucunya.

 

Seorang teman kemudian berbisik di telinga saya sambil menyodorkan sehelai tisu, “Hapus airmatamu. Jangan sampai keluarganya liat kamu ikut nangis. Bisa bikin mereka semakin down.”  Saya lihat sekeliling saya. Para perawat mulai mencopoti selang infus si bayi, mengikat tangan & kakinya dengan kain putih, menutupnya dengan kain, dan mendorong jenazahnya keluar diiringi isak tangis keluarganya.

 

Damn! Tenyata memisahkan simpati dan empati memang nggak semudah mengatakannya ya…

 

Ini pekerjaan yang sangat high tension, karena berpacu dengan waktu dan nyawa. Sangat butuh ketenangan dan konsentrasi.Saya mesti belajar untuk nggak melibatkan emosi terlalu dalam dengan pasien. Nantinya, saya akan melihat kejadian seperti ini berkali-kali setiap hari. Being too emotionally involved will only reduced my ability to save their life optimally.

 

Nobody said it was easy. But I have to learn.

Life’s tough, dear.

Huff….

 

 

 

forgiven. and forgotten.

“Memaafkan akan menghentikan perlambatan hidup anda,” kata Mario Teguh.

 

Kalimat di atas bikin saya terpaku beberapa saat dan merenunginya selama berdetik-detik kemudian.

 

Susah memang rasanya memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, apalagi kalau sudah menyangkut personal matters. Saya sendiri juga punya pengalaman dengan beberapa orang yang pernah bikin saya sakit hati. Bikin saya males dan nggak mau berhubungan lagi dengan orang itu. Jangankan baikan, ngomong aja bisa-bisa saya nggak sudi. Saya anggap orang itu nggak pernah ada dalam hidup saya. Dan dalam hati seringkali muncul rasa benci dan kesel setengah mati tiap ketemu atau denger sesuatu tentang orang itu.

 

Dalam salah satu obrolan kami, pacar saya pernah tanya: “Kenapa sih kalian cewek-cewek suka segitunya kalo gak suka sama orang lain [baca: cewek lain]? Kaya cowok dong. Nggak suka, bilang langsung : ‘Rese lo!’. Kalo perlu berantem sekalian, satu lawan satu. Tapi abis itu udah, beres.” Argumen saya waktu itu, yaa.. gimana-gimana juga masalah antar cewek itu beda sama masalah antar cowok. Lebih kompleks. Cowok main fisik, cewek main hati. There are lots of mean girls out there, and they can easily hurt you with their mean tongue & attitude. Memar atau luka karena berantem, paling seminggu dua minggu udah sembuh. Tapi kalau lukanya di hati, susah banget sembuhnya. Akhirnya pembicaraan kami berakhir tanpa solusi karena saya masih keukeuh bahwa orang boleh minta maaf, tapi sakit hati yang dia timbulkan nggak akan pernah hilang. Forgiven, but not forgotten.

 

Balik lagi ke konsep maaf. Kalo seseorang minta maaf itu kan artinya dia menyesali perbuatannya dan nggak akan mengulanginya lagi. Buat saya ini yang penting. Bukan masalah minta maafnya. Percuma aja minta maaf berkali-kali kalau masih diulangi lagi. Sayangnya, justru inilah yang seringkali terjadi sama saya. Saya maafkan, tapi lagi-lagi saya disakiti. Dicurangi. Dibohongi. Dimanfaatkan. Dianggap bodoh. Ditusuk dari belakang. Makanya saya capek. Kalo orang bisa minta maaf di mulut aja, saya juga bisa kok maafin di mulut aja.

 

Tapi kata-katanya Mario Teguh tadi malam membuat saya berpikir lagi. Apa ya iya saya mau tetep menyimpan rasa sakit hati saya? Mau terus-terusan benci? Sampai kapan? Tanpa disadari, sebenernya [kumpulan] rasa sakit hati itu selama ini saya pikul terus. Kemarahan dan kebencian yang kadangkala muncul setiap kali teringat betapa orang lain pernah menyakiti perasaan saya diam-diam memupuk beban itu dan membuatnya bertambah berat. Dan, yah, beban yang makin berat itu memperlambat hidup saya. Membuat saya susah bergerak dan melupakan masa lalu, yang bagaimanapun juga nggak bisa diulang kembali dan diubah. Padahal di hadapan saya ada masa depan, yang saya tahu bisa saya jadikan lebih baik.

 

Di akhir acaranya tadi malam, Mario Teguh memberi kesimpulan berikut: ”Tegaskanlah membebaskan diri anda untuk hidup seutuhnya, tanpa sakit hati dan dendam yang membebani.

Maafkanlah masa lalu anda.”

 

Jadi saya putuskan, mulai saat ini saya akan mengubah cara pandang saya tentang hal ini. Saya ingin memberikan maaf dengan tulus, tanpa ekspektasi.

Kalo orang yang saya maafkan bener-bener menyesal, ya syukur Alhamdulillah. Kalo nggak, ya udah. Itu urusan dia. Yang penting saya mau turunin isi ‘bagasi’ saya, menguncinya, dan membuang kuncinya jauh-jauh. Supaya saya nggak tergoda untuk ngintip isinya lagi dan mengenang rasa sakit hati yang pernah ada. Saya capek. Punggung saya pegel. Saya pengen berjalan ke depan dengan langkah yang enteng dan senyum lega.

 

 

“Only the strong forgives” - Mahatma Gandhi

 

Dan saya memaafkan kamu.

:)

conversation with devil

“Aku bingung”

Setan membisikkannya perlahan sekali di telingaku: ”Tutup matamu. Lakukan saja.”

Aku menggeleng. “No. It’s not good. SO NOT GOOD.”

Ia berbisik lagi : “Kamu menginginkannya kan?”

Aku tetap menggeleng. “Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri nggak akan melakukannya lagi.”

Ia tersenyum mengejek. “Oh, ya? Kamu sendiri nggak yakin bisa menepatinya kan?”

“Hey, I’m trying here. Aku emang bukan orang suci, tapi at least biarkan aku melakukan satu hal ini dengan benar.”

“Udahlah, nyerah aja.. Apa susahnya sih? Daripada kamunya capek terus.”

“Shut up you!”

“Oh, come on, dear. Admit it. You’re stuck.”

“No, I’m not.”

You’re denying. Can’t fool me, dear. I know exactly what’s on your mind.”

Aku terdiam.

 

 

Mungkin dia ada benarnya juga.

Mungkin lebih baik begini.

Membiarkan semuanya berjalan kembali seperti semula.

Merelakan ketidakbenaran ini terus berlanjut.

Menikmatinya tanpa ekspektasi.

Melakukan semuanya tanpa beban.

Seperti tak ada hari esok.

   

Hey, what a beautiful mess this is.. It’s like, picking up trash in dresses..”

 

[Setan sedang tertawa puas di salah satu sudut gelap pikiranku. Meninggalkan aku di sudut yang lain, tertunduk malu. Once again, I lose my own battle..]

 

the namesake

Mungkin diantara kalian udah ada yang tau asal-usul nama saya yang terdengar aneh ini. Kalo belum tau, sini saya ceritain:

Jadi, dulu waktu mama saya hamil saya, beliau pengennya punya anak laki-laki. Sengaja sebenernya mama saya nggak pengen tahu jenis kelamin anaknya di dalam perut, biar nggak mengurangi ke-surprise-an waktu melahirkan. Waktu itu, mama yakin banget kalo anaknya laki-laki. Soalnya, menurut mitos orang jawa, kalo pas hamil si calon ibunya males-malesan dan keliatan kucel, anaknya bakal laki-laki. Kalo pas hamil si calon ibunya keliatan tambah cantik, tambah rajin, berbinar-binar, anaknya pasti perempuan. Nah, pas hamil saya itu mama saya emang pas males-malesnya. Males dandan, males masak, wes pokoknya males semuanya. Tambah seneng lah mama saya, berarti impiannya punya anak laki-laki bakal terwujud. Nama yang bagus udah disiapin: Mohamat Diparesa, singkatan dari semoga hadirnya selamat, dia putera bangsa Indonesia. Bagus ya artinya :)

Sayangnya, begitu saya lahir, eeeh.. kok ternyata perempuan. Si mama sih seneng-seneng aja meskipun gak jadi punya anak cowok, soalnya dapet anak perempuan yang cantik (bwahaha..narsis!!). Yang bikin pusing, saya mau dikasih nama apa? Akhirnya, setelah mikir2 cukup keras, jadilah sebuah nama dadakan: Anedya Niedar. Singkatan dari anake Eddy Herman Soffyanta dan Pinie Darsan Iroe.

Singkat. Padat. Jelas. Aneh.

Serius. Saya dulu sebel lo sama nama saya. Waktu kecil ada aja yang salah nyebut nama saya atau sengaja melesetin nama saya. Ada yang manggil saya Aneh lah, Anne lah, Planet lah. Macem-macem. Tapi seiring saya tambah dewasa, saya jadi menyukai nama saya. Unik. Idenya kreatif. Dan original. Di dunia ini belum tentu ada orang yang namanya sama nama saya.

Sekarang, calon nama saya dulu, dipake sama adek saya. Hanya singkatannya saja yang beda, jadi: semoga hadirnya selamat, diparingi ingkang sing Maha Kuasa (diberikan oleh Yang Maha Kuasa)

Iseng-iseng tadi siang saya googling dengan keywords nama saya sendiri: Anedya Niedar.

Ternyata saya baru tahu kalo nama saya itu juga ada artinya.

Dalam bahasa Sansekerta kuno pula. Wow, how great is that!

menurut Sanskrit Heritage Dictionary, anedya berasal dari kata a-nedya, yang artinya: yang tidak boleh disalahkan, tanpa dosa, innocent.

Wahaha…kok jauh yaa? Innocent dari mana? hehe..

Yaah.. takpapalah.. nama itu kan artinya harapan. Moga-moga saja memang benar begitu :)

PS:

Oya, dan saya baru tahu kalo saya (ternyata) nggak sendirian. Ada lagi seorang Anedya, kalo nggak salah nama lengkapnya Anedya Wardhani, seorang sarjana teknik yang tinggal di Jogja. Mbak Anedya, if u somehow read this blog, salam kenal ya :)